Afifah, 23. Aku menulis untuk memahami segala hati yang tak tertuliskan oleh lisan. Andai saja kita bisa semeja bercerita mengenai hujan dan matahari, aku akan bercerita lebih mengenai bulan dan bintang.
✎ TAK TAHU
Monday, May 13, 2019 | May 13, 2019 | 0 comments ✉
aku sebenarnya tidak tahu kalau hati ini masih lagi mahu memliki kamu. Mungkin saja iya, aku masih mahu kamu. Aku masih mengharap kamu di saat suka duka ku untuk terus bernafas. Entah, semakin kamu jauh, semakin aku mahu kamu. Semakin kuat rasanya kemahuan aku untuk memilikimu. Mungkin saja sebenarnya cuma nafsu untuk sekadar menginginkan lalu pergi.

Harapnya tidak begitu.

Aku pernah cuba untuk memadam semua tentangmu, di telefon bimbitku, di media sosial ku, semua yang berkaitnya tentang kamu. Tapi pada akhirnya aku tetap mencari. Kenapa semuanya semakin jauh, semakin kuat ingin aku mendapatkan kamu? Sebenarnya aku sendiri tidak tahu.

Harapnya sementara.


Aku harap dengan sejauh ini kita, sejauh langit dan bumi, jarak dan hati, kamu masih tetap sama. Tetap pada pikiranku pada malam hari, tetap pada doaku pada setiap hari dan semoga tetap kejauhan ini bisa menghadirkan rasa ingin memiliki.
✎ TERAKHIR KALINYA
Tuesday, April 30, 2019 | April 30, 2019 | 0 comments ✉

Aku masih menulis dengan harapan segala tentangmu dibaca, ditejemahkan dengan jari jemarimu untuk setidaknya bertanya melalui apapun yang mungkin bisa disampaikan.

Aku tidak tahu kalau ini kali yang keberapa aku mengatakan kita sudah berakhir, kita sudah tidak punya apa-apa lagi dengan niatnya, kita sama-sama tidak punya rasa lagi. Tapi aku masih keliru. Keliru kalau egoku ini masih menjadi sandaran kepada kamu.

Anak yang tidak tahu diuntung!

Aku mengerti kalau tahap ketidaksudianmu untuk membaca segala puisi tentangmu kerana aku sedar tak semua manusia perlu rasa sudi untuk melakukan semua hal. Dan aku juga mengerti seandainya kali ini adalah yang terakhir untuk kamu membaca segala puisi rasa hati aku.

Andai saja kita bisa melangkah ke waktu itu lagi, sudah tentu semua puisi ku hanya untuk kehidupan yang ada turun naiknya. Bukan semata demi kamu yang kini semakin membuat aku buta, rasa keluh, rasa ingin dipijak-pijak, hentak, marah dan semua rasa benci.

Terakhir kali ini aku ingin menyatakan cintaku kepadamu mungkin sama seperti yang lain cuma aku tetap berdoa untuk kamu menjadi nyata dalam semua hal yang menghalalkan.