Afifah, 23. Aku menulis untuk memahami segala hati yang tak tertuliskan oleh lisan. Andai saja kita bisa semeja bercerita mengenai hujan dan matahari, aku akan bercerita lebih mengenai bulan dan bintang.
✎ SISA
Sunday, April 28, 2019 | April 28, 2019 | 0 comments ✉
Setelah berbagi semua rasa dan perasaan, aku akhirnya berjaya untuk melupakan dengan mata bukan dengan hati. Dasar, si pembuta.

Aku tahu kalau melupakan ini cara yang paling terbaik tapi tak sedar bahawa melupakan juga menyakitkan. Bagaimana nanti kalau aku tidak lagi menyapa rasa rindu? Aku tak mahu kalau kamu terus hilang tapi aku juga takmahu terus menerus merasakan diri ini selalunya tak menentu.

Rumit sekali. Kamu sendiri tinggalkan sisa-sisa itu yang kini menjadi sia-sia untuk aku simpan. Eh, kembalikan ke tempatnya. Aku takmahu simpan. Tapi aku takmahu tak punya apa-apa bersama kamu. Aku bertanya dengan rasa yang begitu leka, "benarkah dengan sisa ini aku bisa melupakan?" dan akhirnya persoalan itu terjawab dengan kedinginan mu sendiri. Sedih melihat dinginmu untuk menyapa, "apa khabar?" atau mungkin saja, "sedang apa?". Tapi sayang, hanya kedengaran pada kenangan lalu.

Aku takmahu punya sisa denganmu tapi aku jujur, rindu. Untuk kesekian kalinya, aku menghindari dari semua ini agar rasaku menjadi rasamu. Eih, malah kau pergi.

Ingatkah kamu waktu ingin mula berkenalan? Rasanya bukan aku saja yang punya rasa ini. Kamu juga. Tapi kenapa akhirnya menjadi sepi? Menjadi sendu sepertinya kita memang selakyaknya tidak kenal satu sama lain, apatah lagi pernah sama-sama ingin menjadi satu.

Sisa-sisa ini akan terus aku simpan.
Biarlah sesakit apapun, sebertahan mana pun aku terus berdoa untuk kamu.
Agar kamu tahu, tak semua sisa itu dibuang.

Labels:


/