Afifah, 23. Aku menulis untuk memahami segala hati yang tak tertuliskan oleh lisan. Andai saja kita bisa semeja bercerita mengenai hujan dan matahari, aku akan bercerita lebih mengenai bulan dan bintang.
✎ aku ke kamu, asing
Wednesday, October 30, 2019 | October 30, 2019 | 0 comments ✉
Terlalu banyak puisi yang telah aku baca. Terlalu banyak juga bait-bait yang pedih dan perih untuk aku hadam. Aku enggan mengiyakan kerana aku tahu, hanya aku yang memikirnya secara berlebihan.

Tak hanya itu, aku sudah banyak melihat manusia. Jatuh cinta, marah pada kekasih, benci pada yang tidak lagi menjadi hatinya. Aku bingung, sebenarnya kita ini apa?

Aku dan kamu tidak asing di dunia nyata tapi sayang, kita begitu asing ketika bicarakan soal hati dan perasaan. Aneh, aku berasa tidak berguna sebagai seorang wanita. Bicara soal wanita, aku seharusnya dikejar, aku seharusnya diperjuangkan, aku juga seharusnya yang marah kalau tidak dilayan seperti seorang ratu. Tapi kenapa ini semua tidak sama seperti yang aku bayangkan? Kamu begitu jauh, aku yang mendekat. Aku perjuangkan apa yang seharusnya milikku malah kamu hilang. Aku begitu hampa.

Seandainya kamu membaca lagi tulisan ku hari ini, aku ingin kamu tahu yang apa sebenarnya tujuan mu mengatakan kalau kamu ingin aku terus bersama? Apa kamu diperbodohkan juga oleh perasaanmu sendiri. Kamu ingin beranjak dari masa lalu tapi kenapa tidak membawaku bersamamu? Meninggalkan aku sendiri tanpa tali, mencari kebahagiaan yang kamu tidak pernah sedikit pun menyentuh apatah lagi memberiku rasa.

Asing. Perasaan kita semakin asing. Kita hanya berbicara soal hati ketika kita sama-sama gembira dan bukan setiap hari. Aku bukan ingin kita selalu berbicara tapi tolong, khabari aku soal dirimu. Jangan hanya diam. Kita bukan orang asing. Kita pernah sampai di tahap mengenali isi hati sehingga kamu pernah juga serius soal itu. Apa kerana sekarang kamu bahagia bersama sahabat kamu lalu kamu merasa tidak perlu lagi aku?

Tolong, aku mohon sekali ini, jangan biarkan kita menjadi orang asing.
Seringlah khabari soal dirimu, begitu pun aku.

Aku sudah lelah menunggu. Tiap malam purnama aku mennati kehadiranmu tapi selalu saja hampa.

/